Pada satu malam Minggu di pertengahan Maret tahun 2008, karena ada kerjaan yang mengharuskan saya ke Jakarta, “iseng-iseng berhadiah” saya ditemani seorang rekan yang jurnalis, nongkrong di satu titik kerumunan remaja atau orang muda kita. Saya yang telah berusia 41 tahun, sedangkan rekan saya baru berusia 30 tahun, coba memahami, apa yang ada dibenak para muda kita. Jujur setidaknya saya dan mungkin rekan nongkrong saya itu, tidak dapat terlalu memahami reaksi mereka yang sangat “eksplosif “ setidaknya menurut ukuran saya.
Para muda kita demikian mudah terlarut dalam kegembiraan, walaupun, “maaf” Band yang tampil bukan dari kelompok ternama atau terkenal dan lagu-lagu yang dinyanyikanpun tidak terlalu menarik, setidaknya menurut ukuran saya dan rekan yang jurnalis itu. Para muda kita dengan giat bergoyang menyambut histeris penampilan Band, suatu hal yang membuat saya terkesima dengan “ke-eksplosipan” para muda kita ini.
Jika kita coba analisis telah terjadi perobahan yang signifikan dalam bersikap dan menanggapi keadaan bagi para muda kita. Setidaknya orang yang seperti saya dan rekan yang telah berumur 41 tahun dan 30 tahun, tidak terlalu dapat memahami sikap dan perilaku kaum muda kita, terlebih mereka yang sudah menjadi “Pensiunan”…he..he…
Mungkin ini adalah pertanda zaman, yang sampai pada satu titik, dimana satu kelompok tidak dapat mendominasi kelompok lainnya. Dari fenomena ini berarti tidak adalagi kelompok dominan yang mendominasi atau kelompok inferior yang tersingkirkan dari tataran usia. Artinya perlu ada kesepakan sosial bersama secara tentang; syle, gaya, termasuk kepemimpinan, yang menjadi pilihan dari banyak orang secara demokratis.
Mungkin ini jawaban secara filosofis, yang menjadikan beberapa orang ternama di tataran pemerintahan dan militer akhirnya menjadi pecundang dalam Pilkada beberapa waktu yang lalu. Suara kaum muda kita harus didengar, suara kaum perempuan kita harus didengar, suara ulama kita harus didengar, suara orang Cina harus didengar, suara supir bis, mekrolet, tukang ojek harus didengar dan beribu-ribu bahkan berjuta-juta suara dan aspirasi yang harus didengar serta dipahami.
Pada tataran praktis siapa yang dapat mendengar kemudian memahami suara-suara itu adalah pemenang dalam kehidupan. Artinya jika ia seorang pengusaha akan dia akan menjadi pengusaha yang sukses usahanya, jika dia seorang politisi maka dia akan sukses dalam berpolitik, jika dia seorang seniman maka dia akan menjadi seniman yang banyak penggemarnya…. Jika dan jika yang sangat panjang untuk diteruskan
Kamis, 23 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar